Minggu, 28 Juni 2015

Tanpa Judul (Untitle / 無題)

ceritanya dulu gue pengen jadi novelis, dan setelah cerita alay gue yg berjudul "KUROI SORA", gue juga pernah nulis cerita cinta-cintaan dan gak se-ALAY cerita yg onoh..
アタシわね、小説家になりたかったことあるけど。その "KUROI SORA"のくだらない小説を書いたあとわね、ラブラブな小説を書いたことあるわよ!呼んでみー



BAB 1
AWAL MULA

   Di hari rabu yang tenang Sinta mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya. Namun, matanya yang belum terbuka sepenuhnya membuat ia tertidur lagi, hingga suatu saat jam alarmnya berbunyi.
   KRIIIIIIING.. KRIIIIING..
Sinta yang terkejut langsung mematikan alarmnya dan perlahan berjalan menuju kamar mandi.

Sinta Purnama, yang biasa dipanggil Sinta adalah seorang anak yang cantik, namun super tomboy, sehingga membuatnya ditakuti oleh seluruh siswa dan siswi disekolahnya. Karena ia begitu ditakuti, Sinta terkenal dengan nama panggilan yang sangat cocok untuknya, yaitu Singa.

“Pagi, Ma.” sapa Sinta kepada Mamanya.
“Pagi sayang. Cepetan mandi gih, terus sarapan, ntar telat lagi.” kata Mama Sinta. Setelah selesai mandi Sinta langsung bergegas menuju meja makan untuk sarapan dan berangkat Sekolah.
“Ma, Sinta berangkat ya.” pamit Sinta sambil mencium tangan Mamanya. “Ya sayang. Hati-hati ya” jawab Mama sambil melambaikan tangan kepada Sinta.
   Karena rumah Sinta dekat dari sekolahannya, ia berangkat dengan berjalan kaki. Sinta bersekolah di SMA Harapan. Dan di situlah Sinta bertemu dengan seseorang yang ia sukai.
“Woi .. Singa” kata Adit sambil menepuk bahu Sinta.
“Aduuuuh.. Sakit tauuuu.” ucap Sinta dengan nada manja sambil mengelus bahunya yang kesakitan (pura-pura sakit tepatnya).
“NAJIS LO !! Gak pantes lu ngomong kayak gitu.” kata Adit sambil menjitak kepala Sinta.
“Ya ampun dit… Lembut dikit ama cewek nggak bisa apa?”
 “Bisa… Tapi nggak ama lu.. Haahahahaha” jawab Adit sambil tertawa. Sinta hanya diam tanpa kata (kayak lagu d’masiv aja) dan melanjutkan perjalanannya ke Sekolah bersama Adit.

   Adit dengan nama lengkap Aditya Kurnia adalah teman satu sekolah Sinta, namum beda kelas. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS. Adit banyak digemari oleh banyak orang di sekolahnya, terutama siswa perempuan di sekolahnya. Adit juga tinggal dikawasan rumah Sinta. Hanya saja, jika rumah Sinta masuk kedalam Gang, kalau Adit tidak. Rumahnya masih luruuuuuuuus terus, lalu belok kiri, dan nyampe deh. J


~♥♥♥♥♥♥♥♥~

Sesampai di Sekolah, Sinta langsung masuk kelas dan duduk di bangkunya. Ia membuka tasnya dan mangambil sebuah buku.
“Sinta…” sapa Rista sahabatnya.
Sinta hanya menoleh ke arah Rista dan kembali membaca bukunya. Rista yang sapaanya tidak di sahut Sinta, langsung memasang muka cemberut dan duduk di sebelah Sinta dan memandanginya heran.
“Lu baca buku atau bengong sih, Sin? Dari tadi gue perhatiin tuh buku halamannya nggak dibolak-balik.” tanya Rista heran. Sinta tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Rista. Rista yang kesal dengan kelakuan Sinta, ia berniat untuk memukul bahunya Sinta, namun belum sempat ia memukul, Sinta langsung menepis tangan Rista.
“Jangan sentuh bahu gue!” kata Sinta.
“Lah? Kenapa?” tanya Rista. Sinta langsung menutup bukunya dan melihat sekeliling kelasnya,
“Tadi Adit habis negur gue, trus megang bahu gue, jadi gue gak mau finger printnya malah nyatu dengan finger print tangan lu” jawab Sinta.
“Ya ampun.. lu ribet banget sih jadi manusia. Paling ntar nyampe rumah baju lu dicuci sama emak lu trus finger printnya bakalan ilang juga” kata Rista kesel.
“Nggak gue cuci nih baju. Gue museumkan baju gue. Hahaha” kata Sinta sambil tertawa.
“Hah ! jadi kalo dia megang tangan lu, lu gak akan pernah cuci tangan. Trus kalo pipi lu yang dipegang juga lu gak bakal cuci muka? Idiiiiiiih..” kata Rista sambil masang tampang jijik.
“Iya.. hahaha”
“Stress lu”
 “hahaha”.

   Rista, dengan nama lengakap Rista Rosana adalah sahabat terbaik Sinta di sekolah itu. Rista memiliki hobi yaitu olahraga, yang salah satunya adalah olahraga Basket. Karena ia menggemari olahraga itu, ia diangkat menjadi Ketua Basket di sekolahnya. Rista juga pernah memenangkan kejuaraan basket tingkat Nasional, sehingga membuatnya semakin populer dikalangan anak-anak SMA lainnya.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

“Sin, kekantin yuk! Gue laper tingkat dewa nih.” ajak Rista.
“Nggak ah. Males gue.” jawab Sinta.
“Ayuuuk.. temenin gue.” pinta Rista lagi sambil memasang tampang melas.
“Pengen banget ke kantin?” tanya Sinta mengolok-olokan Rista.
“Ah, elu ! Bete ah gue ! males !”
Dih ngambek. Gak penting banget siih.. iya deh gue temenin” kata Sinta. Sinta langsung beranjak dari bangkunya dan berjalan menuju pintu depan kelas. Namun, langkah Sinta berhanti saat ia melihat Rista masih berada di tempat duduknya. “Woi jadi nggak nih?” tanya Sinta.
“gak ah, males gue” jawab Rista yang masih ngambek.
“Dih, masih ngambek aja dia.” kata Sinta sambil tertawa. “Yakin nih gak jadi??” tanya Sinta lagi sambil meyakinkan Rista.
“Iya. jawab Rista singkat.
“Ya udah kalo gitu.kata Sinta sambil keluar kelas.
“Eh, buset tuh anak. Nggak ada bujuk gue sama sekali.. Sin, tunggu gue !” teriak Rista mengejar Sinta.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

Saat di kantin, Sinta dan Rista duduk di sebelah murid yang sedang bergosip ria.
“Eh, eh.. itu kan kak Ken.” kata salah satu anak itu.
“Waaaaah, iya.. dia itu ganteng sekali.” kata anak yang lain dengan menunjukan ekspresi terpesona.
Sinta dan Rista yang mendengar langsung saling berpandangan. “Hah? Ken? Siapa Ken?” tanya Sinta  pada Rista.
“Itu tuh Atlet Karate yang cakep itu.” jawab Rista.
“Oh ! Deni. Ya ampuuuun. Sejak kapan namanya berubah jadi Ken? Nggak pantes banget!” protes Sinta.
“Mana gue tau. Emang apa salahnya? Kalo nama lu bisa berubah jadi Singa, kenapa dia nggak. Hahaha” ledek Rista.
“Ah ! Rese lu.” kata Sinta kesal. Rista hanya tertawa dan melajutkan makannya.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~
   Setelah Sinta dan Rista selesai makan, mereka kembali ke kelas. Namun, saat ingin menuju kelas, Sinta menghentikan langkahnya dan memandang ke depan. Rista yang kaget saat melihat Sinta tak lagi berada di sebelahnya, langsung berbalik arah dan bertanya,
“Kenapa berhenti Sin?” Sinta tidak menjawab sepatah katapun. Rista yang melihat Sinta seperti itu langsung membalikkan badannya lagi dan melihat kearah pandangan Sinta.
“Jadi, Adit temenan sama Deni” kata Sinta dengan suara pelan.
“Hah ! Lu ngomong apaan sih? Kencengan dikit dong, gak kedengeran gue” kata Rista kesal.
“Apaan sih. Pengen tau banget. Orang gue ngomong sendiri. Pengen banget di ajakin ngomong.”
“Lah? Kok nyolot?”
“Udah, ah.. ayuk ke kelas.”
“Dih begitu. Bete banget sih!” kata Rista sambil berjalan disamping Sinta.
   Saat pelajaran, Sinta hanya diam dan memasang tampang Bete. Rista yang duduk disampingnya jadi merasa tidak nyaman, karena anak-anak melihat kearahnya. “Sin, jangan pasang tampang begitu dong. Serem tau.” kata Rista. “Sin, jangan gitu ah, anak-anak pada ngeliatin tuh.” kata Rista lagi, kali ini Sinta sedikit nyolot. “Sin.. “ belum sempat Rista berbicara, Sinta langsung memotong pembicaraannya dan berkata sambil berteriak.
“Berisik lu !”
Rista yang kaget, langsung menangis. Pak guru yang melihat kejadian itu langsung menyuruh Sinta keruang BP.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

“Bu, permisi..”  kata Sinta sambil mengetuk pintu.
“Yaaaah, kamu lagi. Nggak ada orang lain apa selain kamu yang harus datang kesini? Saya bosen ngeliat kamu mulu.” kata ibu Linda, guru BP di Sekolah Sinta.
Yah, Bu. Saya mau dateng kesini juga kalo bukan karna disuruh, ogah, Bu. Denger nama ibu aja saya udah mules apa lagi ngeliat ibu” kata Sinta dalam hati.
Hehe, iya, Bu. Permisi” kata Sinta mencoba untuk tersenyum manis sambil menggaruk-garuk kepalanya dan duduk di depan ibu Linda.
“Jadi, apa lagi yang kamu lakuin hari ini? Gak pake dasi, kaos kaki pendek, bikin onar, bikin guru nangis, nggak ngerjain tugas, atau teriak didalam kelas?” tanya ibu Linda sambil menulis sesuatu di bukunya.
“Yang terakhir, Bu” jawab Sinta.
Oke, baiklah”
“Lah, Bu?? Kok di buku ibu nama saya semua?” tanya Sinta heran.
Iya emang. Sengaja saya pisahin halaman khusus buat kamu. Baikkan saya?” tanya ibu Linda sambil mengambil pulpen berwarna merah dan menuliskan nama Sinta serta kesalahannya.
“I..iya bu. Baik.jawab Sinta sambil memandang ibu Linda kesal.
“Nah, tanda tangan, Sin.” kata Ibu Lida sambil memberikan pulpennya kepada Sinta.
“Sekarang, Bu?” tanya Sinta polos.
“Tahun depan.” jawab Ibu Linda kesal.
Hehe.. kenapa gak sekalian pas ibu udah punya cucu aja saya tandatanganinnya.” kata Sinta lagi mencoba untuk bercanda sambil menngambil pulpen dan menandatanganinya.
“Hahaha, kamu lucu sekali, Sinta” kata Ibu Linda sambil tertawa dengan nada dibuat-buat. Sinta yang melihat Ibu Linda seperti itu iya merasa ingin melompat dari langit ke-tujuh (emang bisa??).
   Setelah Sinta menandatangini buku catatan Ibu Linda, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. “Permisi, Bu” kata orang tersebut. Sinta yang mendengar suara itu langsung melihat ke arah suara tersebut
 “Nah loh. Tadi Sinta, sekarang kamu. Ya Gusti. Kenapa Engkau menciptakan murid seperti mereka?” kata Ibu Linda sambil menggelengkan kepala dengan menutup mukanya dengan tangan kanannya.
“Lah, Deni? Ngapain lu kesini?” tanya Sinta spontan.
“Eh, kaya pernah kenal nih.kata Deni sambil duduk didepan Ibu Linda sebelah Sinta.
“Apa lagi yang kamu lakuin, Den? Gak pake dasi, kaos kaki pendek, berantem, bikin guru emosi, nggak ngerjain tugas, atau teriak didalam kelas, sama seperti Sinta?” tanya Ibu Linda pada Deni.
“Yang terakhir, Bu.” jawab Deni.
“Lah? Deni juga punya halaman khusus, Bu?” tanya Sinta spontan sambil melototi halaman di buku itu.
“Iya. Kalian itu sama badungnya.” jawab ibu Linda.
“Nah, Den, tanda tangan.katanya lagi.
“Sekarang, Bu?” tanya Deni polos. Sinta yang mendengar pertanyaan Deni ia langsung memandangi Deni dengan mata melotot karena kaget
“Tunggu ibu punya cucu, Den.kata ibu Linda kesal.
“Itukan kata-kata saya yang tadi bu” kata Sinta rada nyolot. Ibu Linda hanya memandangi Sinta dengan tatapan tajam, setajam silet (korban TV). “hehe” tawa Sinta sambil menggaruk-garukkan lehernya.
“Masih lama dong bu, kalo nunggu ibu punya cucu” lanjut Deni yang tidak menghiraukan pulpen dan buku dihadapannya.
“Lah,  kok gitu?” tanya Sinta.
“Kan anak bu Linda masih SD.jawab Deni. “Oh, iya juga ya.” kata Sinta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ya ampun, masih aja ngebahas saya. Buruan dah tanda tangan. Saya laper nih.kata Ibu Linda.
“Oh iya bu, maaf, maaf.” kata Deni sambil mengambil pulpen dan menandatanganinya.
“Ya sudah, kalian berdua keluar lah.” kata Ibu Linda.
“Iya bu, permisi.pamit Sinta dan Deni bersamaan sambil keluar dari ruangan.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

“Lu mau langsung ke kelas Sin?” tanya Deni.
“Ya iya lah, mau kemana lagi?” jawab Sinta sedikit nyolot.
“Dih biasa aja kali. Dasar Singa” ledek Deni.
“Rese banget sih.” kata Sinta sambil memukul lengan Deni.
“Eh, buseeeeeet. Sakit nyong” kata Deni sambil mengelus-elus lengannya.
“Idiiih, nyang nyong nyang nyong. Najis banget sih lu.” kata Sinta dengan tampang jijik.
“Eh, lu kenapa teriak-teriak di dalem kelas?” tanya Deni mengalihkan pembicaraan.
“Gara-gara si Rista tuh. Gue masang tampang jutek trus dia bilang ‘sin, jangan pasang tampang kayak gitu dong, Sin, gak enak di liatin anak-anak’, dan.. bla. bla.. bla...” jawab Sinta sambil menunjukkan suara dan nada bicara yang sama persis dengan Rista.
 “Dih malah curhat” kata Deni.
“Kan tadi lu nanya, Den” bantah Sinta.
“Hahahaha.. sensi amat sih neng. Haha” kata Deni sambil tertawa. “Gue duluan yak. Da..da..” katanya lagi sambil melambaikan tangan ke Sinta.

Ken yang bernama lengkap Deni Ken. Sebenernya dia dipanggil Deni, tapi semua berubah saat dia masuk SMA dan masuk kelas XI IPA 1. Ken adalah teman Adit, wakil ketua OSIS disekolah itu. Ken adalah seorang Atlet Karate, sama dengan Sinta. Ken juga merupakan teman masa kecil Sinta. Namun semua berubah lagi saat terjadi suatu hal yang tidak boleh diceritakan (sekarang). Ken memiliki wajah yang tampan dan badan yang proporsional sebagai seorang atlet. Ken juga dikenal banyak orang, terutama siswi perempuan disekolah itu.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

“Permisi pak” Kata Deni kepada Pak Lupus, guru Matematikanya.
“Lah, udah balik aja dia. Di apain aja sama Bu Linda?” Tanya Pak Lupus dengan tampang serius.
“Disuruh tanda tangan doang, pak.” Jawab Deni singkat sambil berjalan menuju tempat duduknya.
“Oh, ya sudahlah. Ayo kita Lanjutkan lagi pelajarannya anak-anak.” Kata Pak Lupus pada seluruh anak-anak kelas XI IPA 1.
“Eh, seriusan lu, Cuma tanda tangan doang? Nggak diapa-apain gitu?” Tanya Adit teman sebangku Deni.
“Nggak. Cuma tadi gue ketemu sama Sinta.” Jawab Deni.
“oh. Gitu toh. Trus ngapain lu sama Sinta?” Tanya Adit lagi.
“Jalan bareng ke kelas” Jawab Deni sambil tersenyum.“Cemburu??” Tanya Deni pada Adit sambil tersenyum licik.
“Nggak lah. Ngapain juga gue cemburu” Jawab Adit dengan gayanya yang sok cool. Deni yang melihat Adit seperti itu hanya bisa tertawa kecil saja.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

“Permisi, Pak” Kata Sinta sambil mengetuk pintu kelas.
“Eh, Sinta. Cepet amat balik ke kelasnya?” Tanya Pak Tino, guru Kimianya.
“Dih, Bapak. Pengen banget saya lama-lama di ruang BP” ujar Sinta.
“Jelas dong. Saya males ngeliat muka kamu, ngajak berantem” Kata pak Tino dengan muka innocentnya, sehingga membuat suasana kelas yang tadinya sunyi sepi menjadi ramai gara-gara suara tawa mereka. Sinta yang mendengar kata-kata Pak Tino hanya bisa diam dan berserah diri kepada Tuhan, dan berharap agar Tuhan membalas perbuatan pak Tino (loh??). “Ya sudah, kamu duduk, Sin” Kata Pak Tino. Sinta yang tadinya bediri didepan pintu langsung duduk di bangkunya.
“Sin, maaf ya.” Kata Rista dengan muka melas.
“Ah. Lu. Kebiasaan” Kata Sinta kesal.
“Nggak lagi deh, maaf” ujar Sinta pada Rista.
“Iya deh, iya” Kata Sinta yang sudah tidak berdaya lagi.
“Sin, Sin. Tadi lu ketemu sama Deni yah?” Tanya Rista. Sinta yang medengar pertanyaan Rista langsung terkejut dan memandang Rista.
“Kok lu tau?” Tanya Sinta balik.
“Tadi gue kan ke WC, trus pas mau ke WC gue ngeliat Deni masuk ruang BP.” Jelasnya.
“Ngapain dia keruang BP, Sin?” Tanya Rista lagi.
“Gara-gara teriak-teriak di kelas. Gitu sih setau gue” Jawab Sinta.
“Oh, jadi kasusnya sama kayak elu dong.” Kata Rista.
“Hah. Maksud lo?” Tanya Sinta nyolot.
“Lah, kok nyolot? Ngerasa di samain?? Cieeeeee..” Ledek Rista.
“Tuh kan, mulai deh. Bete nih gue”
“Eh… NggakNggak… Gue bercanda”.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

“Sin, Gue duluan yak.” Kata Rista sambil melambaikan tangannya kepada Sinta. Sinta tidak membalas ucapan Rista, namun ia membalas lambaian tangan Rista. Sinta yang melihat Rista lari terburu-buru seperti dikejar kawanan anjing, membuatnya berniat untuk mengekori Rista dari belakang. Namun, rencananya gagal ketika melihat Adit yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya.
“Woi, Singa. Bengong aja lu. Kerasukan ntar” Canda Adit.
“Sotoy banget. Siapa yang bengong, orang gue lagi ngeliatin  Rista.” Kata Sinta sambil menunjuk ke arah Rista.
“Oh Oke, baiklah. Pulang yuk” Ajak Adit.
“Lah??? Tumben lu ngajak pulang bareng?” Tanya Sinta yang tetep dengan gayanya stay cool, walaupun sebenarnya dia pengen lompat-lompat karena diajakin pulang bareng Adit.
“Ya, lagi pengen aja. Nggak boleh ya?” Tanya Adit.
“boleh aja sih sebenernya, tapiii……………” Kata Sinta sambil mengacungkan jari telunjuk didepan mulutnya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
“Tapi apa?” Tanya Adit penasaran.
“Tapi boong” Kata Sinta sambil memiringkan kepalanya ke kanan dengan senyuman yang sangaaaaat manis (mennjijikan sebenarnya)..
“Apaan sih ! Nggak jelas banget.” Kata Adit sambil mengangkat salah satu alis matanya.
“Ah rese lu.
“Haha, Udah ah, pulang yuk.” Kata Adit sambil menarik tangan Sinta.
Diperjalanan pulang Sinta dan Adit saling ledek-ledekan, hingga suatu saat mereka melihat sosok yang tidak asing bagi mereka didepan pintu gerbang masuk sekolah mereka.
“Eh, eh, eh, Dit. Itu Rista bukan?” Tanya Sinta sambil menarik Adit ntuk bersembunyi dibelakang pohon.
“Iya kayaknya.” Jawab Adit.
“Ngapain dia disitu?” Tanya Sinta penasaran.
“Mana gue tau. Nungguin orang kali.” Jawab Adit sedikit nyolot.
Sinta yang tidak puas dengan jawaban Adit malah bikin penasaran tepatnya membuat niat Sinta untuk mengekori Rista muncul (lagi). Sinta yang tidak sabar menunggu jawaban dari orang yang sedang Rista tunggu, tiba-tiba tersentak kaget dan langsung membalikkan badan.
“Eh, kenapa lu?” Tanya Adit heran.
“Nggak Nggak kenapa-napa kok. Pulang yuk. Buruan.” Kata Sinta sambil menarik tangan Adit. Adit yang penasaran langsung melihat kearah Rista. Disitu ia melihat Deni yang sedang berbicara pada Rista. Adit hanya tersenyum manis melihatnya. Mereka pulang melewati gerbang keluar sekolah dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan Rista.
Setelah mereka sudah agak jauh dari sekolah, Adit yang melihat Sinta jalan terburu-buru sambil menundukkan kepalnya langsung bertanya “Ngapa lu? Cemburu ya?”.
“Nggak lah Ngapain gue cemburu. Cuma gue tiba-tiba pengen cepet pulang aja” Jawab Sinta tanpa memandang Adit. Adit yang mendengar jawaban Sinta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

~♥♥♥♥♥♥♥♥~

Setelah samapai di rumah. Sinta langsung menuju kamarnya dan mengambil Handphonenya. “Gue harus SMS Deni nih, tapi nanya nya gimana ya?” Kata Sinta dalam hati. Sinta memencet-mencet tombol yang ada di Handphonenya. “salah nggak ya, gue SMS kaya gini?” Kata Sinta.

Sent:
Den.. Bsk gw mau ngomg ama lu.

Bbbrrrrtttt.. Bbbrrrrrtttttt..

   Sinta yang mendengar suara getar Handphonenya langsung mengambil dan membaca SMS yang barusan ia terima.

Deni
Tumben sms?
Mw ngomg apaan?

“Ngomongin sekarang atau besok aja ya? Aduh galau kan gue” Kata Sinta dalam hati. Lalu ia membalas SMS Deni.

Sent:
Besok aja deh...
Gak enak ngomong lewat sms..

Bbbrrrrrttttt.. Bbbbrrrrtttt...

Deni
Trus gimana ngomng nya?
Gw k kelas lu gt? Atw lu k kls gw  aja?

“Iya ya?? Gue ke kelas Deni, atau Deni ke kelas gue? Ah, mending gue aja deh ke kelas Deni, biar aman” Katanya sambil membalas SMS Deni.

Sent:
Y udah, gw aja deh yg k kls lu.

Bbbbbbbbbrrrrrrrtttttttt... Bbbbbrrrrtttttt..

Deni
Y udh.. besok gw tunggu..

   “Oke deh… Beres Tapi gimana gue ngomongnya ya? Masa langsung marah-marah Aduuuuh” Kata Sinta kebingunan.  Sinta yang masih bingung memilih jalan untuk tidur, agar ia bisa melupakan kejadian tadi dan mendapatkan tenaga untuk mengerjakan PR-PRnya yang menumpuk.



~♥♥♥♥♥♥♥♥~

bersambung....

naaaaah.. itulah sekilas cerita nya...
まだ続けよぜ!!!