アタシわね、小説家になりたかったことあるけど。その "KUROI SORA"のくだらない小説を書いたあとわね、ラブラブな小説を書いたことあるわよ!呼んでみー
BAB 1
AWAL MULA
Di hari rabu yang tenang Sinta mencoba untuk
bangun dari tempat tidurnya. Namun, matanya yang belum terbuka sepenuhnya
membuat ia tertidur lagi, hingga suatu saat jam alarmnya berbunyi.
KRIIIIIIING.. KRIIIIING..
Sinta
yang terkejut langsung mematikan alarmnya dan perlahan berjalan menuju kamar
mandi.
Sinta Purnama, yang biasa dipanggil Sinta
adalah seorang anak yang
cantik, namun super tomboy, sehingga
membuatnya ditakuti oleh seluruh siswa dan siswi disekolahnya. Karena ia begitu
ditakuti, Sinta terkenal dengan nama panggilan yang sangat cocok untuknya,
yaitu Singa.
“Pagi, Ma.” sapa Sinta kepada Mamanya.
“Pagi
sayang. Cepetan mandi gih, terus sarapan, ntar telat lagi.” kata Mama Sinta. Setelah selesai mandi Sinta
langsung bergegas menuju meja makan untuk sarapan dan berangkat Sekolah.
“Ma, Sinta berangkat ya.” pamit
Sinta sambil mencium tangan Mamanya. “Ya sayang. Hati-hati ya” jawab Mama sambil melambaikan tangan kepada Sinta.
Karena rumah Sinta dekat dari sekolahannya, ia berangkat dengan berjalan kaki. Sinta bersekolah di
SMA Harapan. Dan di situlah Sinta bertemu dengan seseorang yang ia sukai.
“Woi ..
Singa” kata Adit sambil menepuk bahu Sinta.
“Aduuuuh..
Sakit tauuuu.” ucap Sinta dengan nada manja sambil mengelus
bahunya yang kesakitan (pura-pura sakit tepatnya).
“NAJIS
LO !! Gak pantes lu ngomong kayak gitu.” kata
Adit sambil menjitak kepala Sinta.
“Ya
ampun dit… Lembut dikit ama cewek nggak bisa apa?”
“Bisa… Tapi nggak ama lu.. Haahahahaha” jawab
Adit sambil tertawa. Sinta hanya diam tanpa kata (kayak lagu d’masiv aja) dan
melanjutkan perjalanannya ke Sekolah bersama Adit.
Adit
dengan nama lengkap Aditya Kurnia adalah teman satu sekolah Sinta, namum beda
kelas. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS. Adit banyak digemari oleh banyak
orang di sekolahnya, terutama siswa perempuan di sekolahnya. Adit juga tinggal dikawasan rumah Sinta. Hanya saja,
jika rumah Sinta masuk kedalam Gang, kalau Adit tidak. Rumahnya masih luruuuuuuuus
terus, lalu belok kiri, dan nyampe deh. J
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
Sesampai
di Sekolah, Sinta langsung masuk kelas dan duduk di bangkunya. Ia membuka
tasnya dan mangambil sebuah buku.
“Sinta…”
sapa Rista sahabatnya.
Sinta
hanya menoleh ke arah Rista dan kembali membaca bukunya. Rista yang sapaanya
tidak di sahut Sinta, langsung memasang muka cemberut dan duduk di sebelah
Sinta dan memandanginya heran.
“Lu
baca buku atau bengong sih, Sin? Dari tadi gue perhatiin tuh buku halamannya nggak dibolak-balik.” tanya
Rista heran. Sinta tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Rista. Rista yang
kesal dengan kelakuan Sinta, ia berniat untuk memukul bahunya Sinta, namun
belum sempat ia memukul, Sinta langsung menepis tangan Rista.
“Jangan
sentuh bahu gue!” kata Sinta.
“Lah?
Kenapa?” tanya Rista. Sinta langsung menutup bukunya dan melihat sekeliling
kelasnya,
“Tadi
Adit habis negur gue, trus megang bahu gue, jadi gue gak mau finger printnya malah nyatu dengan finger print tangan lu” jawab Sinta.
“Ya
ampun.. lu ribet banget sih jadi manusia. Paling ntar nyampe rumah baju lu dicuci
sama emak lu trus finger printnya
bakalan ilang juga” kata Rista kesel.
“Nggak
gue cuci nih baju. Gue museumkan baju gue. Hahaha” kata Sinta sambil tertawa.
“Hah !
jadi kalo dia megang tangan lu, lu gak akan pernah cuci tangan. Trus kalo pipi
lu yang dipegang juga lu gak bakal cuci muka? Idiiiiiiih..” kata Rista sambil
masang tampang jijik.
“Iya..
hahaha”
“Stress
lu”
“hahaha”.
Rista,
dengan nama lengakap Rista Rosana adalah sahabat terbaik Sinta di sekolah itu.
Rista memiliki hobi yaitu olahraga, yang salah satunya adalah olahraga Basket.
Karena ia menggemari olahraga itu, ia diangkat menjadi Ketua Basket di sekolahnya. Rista juga pernah
memenangkan kejuaraan basket tingkat Nasional, sehingga membuatnya
semakin populer dikalangan anak-anak SMA lainnya.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
“Sin,
kekantin yuk! Gue laper tingkat dewa nih.” ajak Rista.
“Nggak
ah. Males gue.” jawab Sinta.
“Ayuuuk..
temenin gue.” pinta Rista lagi sambil memasang tampang
melas.
“Pengen
banget ke kantin?” tanya Sinta mengolok-olokan Rista.
“Ah,
elu ! Bete ah gue ! males !”
“Dih ngambek. Gak penting banget siih.. iya deh gue
temenin” kata Sinta. Sinta langsung beranjak dari bangkunya dan berjalan menuju
pintu depan kelas. Namun, langkah Sinta berhanti saat ia melihat Rista masih
berada di tempat duduknya. “Woi jadi nggak nih?” tanya Sinta.
“gak
ah, males gue” jawab Rista yang masih ngambek.
“Dih,
masih ngambek aja dia.” kata
Sinta sambil tertawa. “Yakin nih gak jadi??” tanya Sinta lagi sambil meyakinkan
Rista.
“Iya.” jawab Rista singkat.
“Ya
udah kalo gitu.” kata
Sinta sambil keluar kelas.
“Eh,
buset tuh anak. Nggak ada bujuk gue sama sekali.. Sin, tunggu gue !” teriak
Rista mengejar Sinta.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
Saat di
kantin, Sinta dan Rista duduk di sebelah murid yang sedang bergosip ria.
“Eh,
eh.. itu kan kak Ken.” kata salah satu anak itu.
“Waaaaah, iya.. dia itu ganteng sekali.” kata anak yang lain dengan menunjukan ekspresi
terpesona.
Sinta
dan Rista yang mendengar langsung saling berpandangan. “Hah? Ken? Siapa Ken?”
tanya Sinta pada Rista.
“Itu
tuh Atlet Karate yang cakep itu.” jawab
Rista.
“Oh !
Deni. Ya ampuuuun. Sejak kapan namanya berubah jadi Ken? Nggak pantes banget!” protes Sinta.
“Mana
gue tau. Emang apa salahnya? Kalo nama lu bisa berubah jadi Singa, kenapa dia
nggak. Hahaha” ledek Rista.
“Ah !
Rese lu.” kata Sinta kesal. Rista hanya tertawa dan melajutkan makannya.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
Setelah Sinta dan Rista selesai makan, mereka
kembali ke kelas. Namun, saat ingin menuju kelas, Sinta menghentikan langkahnya
dan memandang ke depan. Rista yang kaget saat melihat Sinta tak lagi berada di
sebelahnya, langsung berbalik arah dan bertanya,
“Kenapa
berhenti Sin?” Sinta tidak menjawab sepatah katapun. Rista
yang melihat Sinta seperti itu langsung membalikkan badannya lagi dan melihat
kearah pandangan Sinta.
“Jadi,
Adit temenan sama Deni” kata Sinta dengan suara pelan.
“Hah !
Lu ngomong apaan sih? Kencengan dikit dong, gak kedengeran gue” kata Rista
kesal.
“Apaan
sih. Pengen tau banget. Orang gue ngomong sendiri. Pengen banget di ajakin
ngomong.”
“Lah?
Kok nyolot?”
“Udah,
ah.. ayuk ke kelas.”
“Dih
begitu. Bete banget sih!” kata Rista sambil berjalan disamping Sinta.
Saat pelajaran, Sinta hanya diam dan memasang
tampang Bete. Rista yang duduk disampingnya jadi merasa tidak nyaman, karena anak-anak
melihat kearahnya. “Sin, jangan pasang tampang begitu dong. Serem tau.” kata Rista. “Sin, jangan gitu ah, anak-anak pada ngeliatin
tuh.” kata Rista lagi, kali ini Sinta sedikit nyolot.
“Sin.. “ belum sempat Rista berbicara, Sinta langsung memotong pembicaraannya
dan berkata sambil berteriak.
“Berisik
lu !”
Rista
yang kaget, langsung menangis. Pak guru yang melihat kejadian itu langsung
menyuruh Sinta keruang BP.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
“Bu,
permisi..” kata Sinta sambil mengetuk
pintu.
“Yaaaah,
kamu lagi. Nggak ada orang lain apa selain kamu yang harus datang kesini? Saya
bosen ngeliat kamu mulu.” kata ibu Linda, guru BP di Sekolah Sinta.
“Yah, Bu. Saya mau dateng kesini juga kalo bukan karna disuruh,
ogah, Bu. Denger nama ibu aja saya udah mules apa
lagi ngeliat ibu” kata Sinta dalam
hati.
“Hehe, iya, Bu.
Permisi” kata Sinta mencoba untuk tersenyum manis sambil menggaruk-garuk kepalanya
dan duduk di depan ibu Linda.
“Jadi,
apa lagi yang kamu lakuin hari ini? Gak pake dasi, kaos kaki pendek, bikin
onar, bikin guru nangis, nggak ngerjain tugas, atau teriak didalam kelas?”
tanya ibu Linda sambil menulis sesuatu di bukunya.
“Yang
terakhir, Bu” jawab Sinta.
“Oke, baiklah”
“Lah,
Bu?? Kok di buku ibu nama saya semua?” tanya
Sinta heran.
“Iya emang. Sengaja saya pisahin halaman khusus buat kamu.
Baikkan saya?” tanya ibu Linda sambil mengambil pulpen berwarna merah dan
menuliskan nama Sinta serta kesalahannya.
“I..iya
bu. Baik.” jawab
Sinta sambil memandang ibu Linda kesal.
“Nah,
tanda tangan, Sin.” kata
Ibu Lida sambil memberikan pulpennya kepada Sinta.
“Sekarang,
Bu?” tanya
Sinta polos.
“Tahun
depan.” jawab Ibu Linda kesal.
“Hehe.. kenapa gak sekalian pas ibu udah punya cucu aja
saya tandatanganinnya.” kata Sinta lagi mencoba untuk bercanda
sambil menngambil pulpen dan menandatanganinya.
“Hahaha,
kamu lucu sekali, Sinta” kata Ibu Linda sambil tertawa dengan
nada dibuat-buat. Sinta yang melihat Ibu Linda seperti itu iya merasa ingin
melompat dari langit ke-tujuh (emang bisa??).
Setelah Sinta menandatangini buku catatan Ibu
Linda, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. “Permisi,
Bu” kata orang tersebut. Sinta yang mendengar suara
itu langsung melihat ke arah suara tersebut
“Nah loh. Tadi Sinta, sekarang kamu. Ya Gusti.
Kenapa Engkau menciptakan murid seperti mereka?” kata Ibu Linda sambil
menggelengkan kepala dengan menutup mukanya dengan tangan kanannya.
“Lah, Deni? Ngapain lu kesini?” tanya
Sinta spontan.
“Eh,
kaya pernah kenal nih.” kata
Deni sambil duduk didepan Ibu Linda sebelah Sinta.
“Apa
lagi yang kamu lakuin, Den?
Gak pake dasi, kaos kaki pendek, berantem, bikin guru emosi, nggak ngerjain
tugas, atau teriak didalam kelas, sama seperti Sinta?” tanya Ibu Linda pada Deni.
“Yang
terakhir, Bu.” jawab
Deni.
“Lah?
Deni juga punya halaman khusus, Bu?” tanya Sinta spontan sambil melototi halaman di buku itu.
“Iya.
Kalian itu sama badungnya.” jawab
ibu Linda.
“Nah, Den, tanda tangan.” katanya lagi.
“Sekarang,
Bu?” tanya Deni polos. Sinta yang mendengar
pertanyaan Deni ia langsung memandangi Deni dengan mata melotot karena kaget
“Tunggu
ibu punya cucu, Den.” kata ibu Linda kesal.
“Itukan
kata-kata saya yang tadi bu” kata Sinta rada nyolot. Ibu Linda hanya memandangi
Sinta dengan tatapan tajam, setajam silet (korban TV). “hehe” tawa Sinta sambil
menggaruk-garukkan lehernya.
“Masih
lama dong bu, kalo nunggu ibu punya cucu” lanjut Deni yang tidak menghiraukan
pulpen dan buku dihadapannya.
“Lah, kok gitu?” tanya
Sinta.
“Kan
anak bu Linda masih SD.” jawab
Deni. “Oh, iya juga ya.” kata Sinta
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ya
ampun, masih aja ngebahas saya. Buruan dah tanda tangan. Saya laper nih.” kata Ibu Linda.
“Oh iya
bu, maaf, maaf.” kata Deni sambil mengambil pulpen dan
menandatanganinya.
“Ya
sudah, kalian berdua keluar lah.” kata Ibu Linda.
“Iya
bu, permisi.” pamit
Sinta dan Deni bersamaan sambil keluar dari ruangan.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
“Lu mau
langsung ke kelas Sin?” tanya Deni.
“Ya iya
lah, mau kemana lagi?” jawab Sinta sedikit nyolot.
“Dih
biasa aja kali. Dasar Singa” ledek Deni.
“Rese
banget sih.” kata Sinta sambil memukul lengan Deni.
“Eh,
buseeeeeet. Sakit nyong” kata Deni sambil mengelus-elus lengannya.
“Idiiih,
nyang nyong nyang nyong. Najis banget sih lu.” kata Sinta dengan tampang jijik.
“Eh, lu
kenapa teriak-teriak di dalem kelas?” tanya
Deni mengalihkan pembicaraan.
“Gara-gara
si Rista tuh. Gue masang tampang jutek trus dia bilang ‘sin, jangan pasang
tampang kayak gitu dong, Sin, gak enak di liatin anak-anak’, dan.. bla. bla..
bla...” jawab Sinta sambil menunjukkan suara dan nada bicara yang sama
persis dengan Rista.
“Dih malah curhat” kata Deni.
“Kan
tadi lu nanya, Den” bantah Sinta.
“Hahahaha..
sensi amat sih neng. Haha” kata Deni sambil tertawa. “Gue duluan yak. Da..da..” katanya
lagi sambil melambaikan tangan ke Sinta.
Ken yang bernama lengkap Deni Ken. Sebenernya
dia dipanggil Deni, tapi semua berubah saat dia masuk SMA dan masuk kelas XI IPA 1. Ken adalah teman Adit, wakil ketua OSIS disekolah
itu. Ken adalah seorang Atlet Karate, sama dengan Sinta. Ken juga merupakan
teman masa kecil Sinta. Namun semua berubah lagi saat terjadi suatu hal yang
tidak boleh diceritakan (sekarang). Ken memiliki wajah yang tampan dan badan
yang proporsional sebagai seorang atlet. Ken
juga dikenal banyak orang, terutama siswi perempuan disekolah itu.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
“Permisi
pak” Kata Deni kepada Pak Lupus, guru Matematikanya.
“Lah,
udah balik aja dia. Di apain aja sama Bu Linda?” Tanya Pak Lupus dengan tampang
serius.
“Disuruh
tanda tangan doang, pak.” Jawab Deni singkat sambil berjalan menuju tempat duduknya.
“Oh, ya
sudahlah. Ayo kita Lanjutkan lagi pelajarannya anak-anak.” Kata Pak Lupus pada
seluruh anak-anak kelas XI IPA 1.
“Eh,
seriusan lu, Cuma tanda tangan doang? Nggak diapa-apain gitu?” Tanya Adit teman
sebangku Deni.
“Nggak.
Cuma tadi gue ketemu sama Sinta.” Jawab Deni.
“oh.
Gitu toh. Trus ngapain lu sama Sinta?” Tanya Adit lagi.
“Jalan
bareng ke kelas” Jawab Deni sambil tersenyum.“Cemburu??” Tanya Deni pada Adit
sambil tersenyum licik.
“Nggak
lah. Ngapain juga gue cemburu” Jawab Adit dengan gayanya yang sok cool. Deni yang melihat Adit seperti itu
hanya bisa tertawa kecil saja.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
“Permisi,
Pak” Kata Sinta sambil mengetuk pintu kelas.
“Eh,
Sinta. Cepet amat balik ke kelasnya?” Tanya Pak Tino, guru Kimianya.
“Dih, Bapak. Pengen banget saya lama-lama di ruang BP” ujar
Sinta.
“Jelas
dong. Saya males ngeliat muka kamu, ngajak berantem” Kata pak Tino dengan muka innocentnya, sehingga membuat suasana
kelas yang tadinya sunyi sepi menjadi ramai gara-gara suara tawa mereka. Sinta
yang mendengar kata-kata Pak Tino hanya bisa diam dan berserah diri kepada
Tuhan, dan berharap agar Tuhan membalas perbuatan pak Tino (loh??). “Ya sudah,
kamu duduk, Sin” Kata Pak Tino. Sinta yang tadinya
bediri didepan pintu langsung duduk di bangkunya.
“Sin,
maaf ya.” Kata Rista dengan muka melas.
“Ah. Lu.
Kebiasaan” Kata Sinta kesal.
“Nggak
lagi deh, maaf” ujar Sinta pada Rista.
“Iya
deh, iya” Kata Sinta yang sudah tidak berdaya lagi.
“Sin, Sin. Tadi lu ketemu sama Deni yah?”
Tanya Rista. Sinta yang medengar pertanyaan Rista langsung terkejut dan
memandang Rista.
“Kok lu
tau?” Tanya Sinta balik.
“Tadi
gue kan ke WC, trus pas mau ke WC gue ngeliat Deni masuk
ruang BP.” Jelasnya.
“Ngapain
dia keruang BP, Sin?” Tanya Rista lagi.
“Gara-gara
teriak-teriak di kelas. Gitu sih setau gue” Jawab Sinta.
“Oh,
jadi kasusnya sama kayak elu dong.” Kata Rista.
“Hah. Maksud
lo?” Tanya Sinta nyolot.
“Lah,
kok nyolot? Ngerasa di samain?? Cieeeeee..” Ledek Rista.
“Tuh
kan, mulai deh. Bete nih gue”
“Eh… Nggak… Nggak… Gue bercanda”.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
“Sin,
Gue duluan yak.” Kata Rista sambil melambaikan tangannya kepada Sinta. Sinta
tidak membalas ucapan Rista, namun ia membalas lambaian tangan Rista. Sinta
yang melihat Rista lari terburu-buru seperti dikejar kawanan anjing, membuatnya
berniat untuk mengekori Rista dari belakang. Namun, rencananya gagal ketika
melihat Adit yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya.
“Woi,
Singa. Bengong aja lu. Kerasukan ntar” Canda Adit.
“Sotoy
banget. Siapa yang bengong, orang gue lagi ngeliatin Rista.” Kata Sinta sambil menunjuk ke arah Rista.
“Oh… Oke, baiklah. Pulang yuk” Ajak Adit.
“Lah???
Tumben lu ngajak pulang bareng?” Tanya Sinta yang tetep dengan gayanya stay cool, walaupun sebenarnya dia
pengen lompat-lompat karena diajakin pulang bareng Adit.
“Ya,
lagi pengen aja. Nggak boleh ya?” Tanya Adit.
“boleh
aja sih sebenernya, tapiii……………” Kata Sinta sambil mengacungkan jari
telunjuk didepan mulutnya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
“Tapi
apa?” Tanya Adit penasaran.
“Tapi
boong” Kata Sinta sambil memiringkan kepalanya ke kanan dengan senyuman yang
sangaaaaat manis (mennjijikan sebenarnya)..
“Apaan
sih ! Nggak jelas banget.” Kata Adit sambil mengangkat salah satu alis
matanya.
“Ah
rese lu.”
“Haha,
Udah ah, pulang yuk.” Kata Adit sambil menarik tangan Sinta.
Diperjalanan
pulang Sinta dan Adit saling ledek-ledekan, hingga suatu saat mereka melihat
sosok yang tidak asing bagi mereka didepan pintu gerbang masuk sekolah mereka.
“Eh,
eh, eh, Dit. Itu Rista bukan?” Tanya Sinta sambil menarik Adit ntuk bersembunyi
dibelakang pohon.
“Iya
kayaknya.” Jawab Adit.
“Ngapain
dia disitu?” Tanya Sinta penasaran.
“Mana
gue tau. Nungguin orang kali.” Jawab Adit sedikit nyolot.
Sinta
yang tidak puas dengan jawaban Adit malah bikin penasaran tepatnya membuat niat
Sinta untuk mengekori Rista muncul (lagi). Sinta yang tidak sabar menunggu jawaban dari orang yang
sedang Rista tunggu, tiba-tiba tersentak kaget dan langsung membalikkan badan.
“Eh,
kenapa lu?” Tanya Adit heran.
“Nggak… Nggak kenapa-napa kok. Pulang yuk. Buruan.” Kata Sinta sambil menarik tangan Adit. Adit yang
penasaran langsung melihat kearah Rista. Disitu ia melihat Deni yang sedang
berbicara pada Rista. Adit hanya tersenyum manis melihatnya. Mereka pulang
melewati gerbang keluar sekolah dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak
ketahuan Rista.
Setelah
mereka sudah agak jauh dari sekolah, Adit yang melihat Sinta jalan terburu-buru
sambil menundukkan kepalnya langsung bertanya “Ngapa lu? Cemburu ya?”.
“Nggak
lah… Ngapain gue cemburu. Cuma gue tiba-tiba pengen
cepet pulang aja” Jawab Sinta tanpa memandang Adit. Adit yang mendengar jawaban
Sinta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
Setelah
samapai di rumah. Sinta langsung menuju kamarnya dan mengambil Handphonenya. “Gue harus SMS Deni nih, tapi nanya nya gimana ya?” Kata Sinta
dalam hati. Sinta memencet-mencet tombol yang ada di Handphonenya. “salah nggak
ya, gue SMS kaya gini?” Kata Sinta.
Sent:
Den.. Bsk gw mau ngomg ama lu.
Bbbrrrrtttt..
Bbbrrrrrtttttt..
Sinta yang mendengar suara getar Handphonenya langsung mengambil dan
membaca SMS yang barusan ia terima.
Deni
Tumben sms?
Mw ngomg apaan?
“Ngomongin sekarang atau besok aja ya? Aduh
galau kan gue” Kata Sinta dalam
hati. Lalu ia membalas SMS Deni.
Sent:
Besok aja deh...
Gak enak ngomong lewat sms..
Bbbrrrrrttttt.. Bbbbrrrrtttt...
Deni
Trus gimana ngomng nya?
Gw k kelas lu gt? Atw lu k kls gw aja?
“Iya ya?? Gue ke kelas Deni, atau Deni ke
kelas gue? Ah, mending gue aja deh ke kelas Deni, biar aman” Katanya sambil membalas SMS Deni.
Sent:
Y udah, gw aja deh yg k kls lu.
Bbbbbbbbbrrrrrrrtttttttt...
Bbbbbrrrrtttttt..
Deni
Y udh.. besok gw tunggu..
“Oke deh… Beres… Tapi gimana gue ngomongnya ya? Masa langsung marah-marah… Aduuuuh…” Kata Sinta kebingunan. Sinta yang masih bingung memilih jalan untuk
tidur, agar ia bisa melupakan kejadian tadi dan mendapatkan tenaga untuk
mengerjakan PR-PRnya yang menumpuk.
~♥♥♥♥♥♥♥♥~
bersambung....
naaaaah.. itulah sekilas cerita nya...
まだ続けよぜ!!!